Sabtu, 19 Mei 2012

Kutemukan Cinta - part 2

25 hari sebelumnya.

Dompetku hilang! Lututku tiba-tiba melemas di hadapan mesin yang seharusnya mencairkan uang tunai ke tanganku saat ini. Aku mengorek-ngorek isi tasku, mengeluarkan semua yang ada di dalamnya untuk mencari kotak kecil berwarna hitam itu. kutahu itu percuma. Aku sangat ingat, telah menaruhnya di posisi biasa. 
  
Daya ingatku cukup kuat untuk masalah tata letak. Benda yang aku susun, aku bahkan bisa mengetahui ada yang menyentuhnya hanya dengan melihat letaknya yang berubah. Jadi, kalau benda itu sudah tidak ada di posisinya semula, maka seseorang pastilah telah menggesernya. Seseorang atau sesuatu, kali ini tepatnya. Jeng-jeng-jeng…
   
Perut yang mengerucuk, seakan ikut berteriak cemas bahwa dia tak akan bisa menikmati makan malam seperti sewajarnya. Untungnya, temanku cukup tanggap untuk membayari makan terlebih dahulu.
   
Lezatnya Pho Bo (sejenis bakso Vietnam) pun untuk sementara berhasil menghilangkan kepanikan. Hingga akhirnya, usai makan kami balik ke kantor dan menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Sudah tidak ada TransJakarta lagi, dan pekerjaan tentu saja masih menanti.
   
Beginilah nasib kami para auditor. Untuk memenuhi deadline penugasan, tidak jarang kami harus menghabiskan lebih dari setengah hari di kantor. Bahkan ada pula yang terpaksa menginap sampai esoknya, atau bahkan berhari-hari. Jika kau tanya apa saja yang kami lakukan? Tidak, kami tak hanya menatap kaku layar laptop.
   
Kami berpikir, kami menganalisa, kami mencari dasar, kami mengumpulkan bukti, kami membuat kesimpulan, kami mencipta, kami mengedit, kami berargumentasi, dan kami juga memastikan agar apa yang kami kerjakan tidak dipertanyakan apalagi diragukan. Singkat kata, bagi kalian yang menganggap menulis itu hal susah, bayangkan jika anda harus menulis sesuatu dengan analisa tepat, dan dasar serta bukti yang tak bisa dipatahkan. Begitulah, betapa menantangnya pekerjaan kami.
   
Ngomong-ngomong soal menantang, pulang tengah malam tanpa selembar uang di tangan juga termasuk sesuatu yang menantang. Menantang untuk dikuliti supir taksi misalnya, jika kita memintanya mengantar sampai tujuan, lalu berkata “Maaf pak, dompet saya ketinggalan di kantor.. boleh ngutang dulu?”. Atau menantang diteriaki bos, ketika kita minta diijinkan menebeng sampai Salemba, sementara rumah beliau berada di daerah Pondok Indah sana.
   
Dan aku, sedang tak ingin menjalani tantangan seperti itu.
  
Well, sepertinya tak ada pilihan lain selain bergantung padanya.
  
Ya, dia.
  
Seseorang yang selalu bisa diandalkan untuk saat-saat seperti ini.
  
***

 
“Jadi, kali ini kenapa lagi?” tanyanya ketika kami duduk berhadapan, masing-masing dengan sepotong paha dan sayap di tangan, siap untuk dilahap.
  
“Apa!?” aku berteriak, memintanya mengulang.
  
Saat ini kami berada di salah satu tempat makan 24 jam di daerah Matraman. Kondisinya ramai sekali, bukan hanya karna tempat itu biasa dijadikan tongkrongan para pencinta malam. Tapi kebetulan, malam ini juga memang ada acara nonton bersama pertandingan bola di salah satu stasiun TV.
   
Beberapa bangku dan meja digabungkan di tengah, tepat di hadapan layar kaca 25 inches itu. Segerombolan pria dengan berbagai baju dan gaya, berkumpul dan mulai menjagokan jawaranya masing-masing. Satu-dua wanita juga terlihat menyelip di antaranya, hanya bisa ikut tertawa, dan sesekali berkomentar.
  
Cukup riuh, hingga membuat suara dia di seberang sana menjadi tersamar.
  
Oh ya, dia yang kumaksud adalah teman di kantor pertamaku dulu. Namanya Damar. Kami satu angkatan saat masuk kantor beberapa tahun lalu. Aku tak begitu ingat bagaimana awalnya, namun yang kutahu selalu menyenangkan untuk berbagi cerita dengannya. Sapaan tidak penting yang mengawali hari, obrolan ngalor-ngidul yang tak jelas juntrungannya, sampai hal penting untuk diargumentasi yang kemudian berubah menjadi sepele karna penuturannya. Lama-kelamaan aku pun menjadi terbiasa berbagi banyak hal dengannya.
  
Terlalu terbiasa, sampai akhirnya dia menjadi sosok pertama yang terlintas ketika kumenemui sesuatu. Misalnya ya seperti saat ini. Untung di sisiku, naas di sisinya. Hahahaa..
   
Menyerah karna tahu suaranya takkan bisa mengalahkan keriuhan yang ada, Damar menggeser kursinya hingga kami bersebelahan.
  
“Jadi, kali ini kenapa?” ucapnya mengulang pertanyaan yang sempat dilontarkan tadi.
  
“Dompet gw ilang.” Jawabku sambil tetap melahap paha ayam yang menggoda.
  
“Ko bisa?” dia terkejut.
  
“Ya, bisa.. kenapa harus gak bisa?”
  
“Euuhhh,, serius..” protesnya menanggapi jawaban acuhku. “Kartu-kartu udah diblokir?”
  
“CC udah, ATM belum. Mau liat dulu di kamar, sapa tau keselip”
  
“Mending blokir aja dulu, kalo emang ATMnya ternyata ada kan tinggal minta buka blokirannya nanti. Daripada kenapa-kenapa itu isi rekening.”
  
“Gak bakal kenapa-kenapa.. Gak ada uangnya ini. Ahahahaaa..”
   
Dia meringis, bersamaan dengan gaduh yang mulai terdengar ketika salah satu tim mulai melakukan penyerangan. Perhatian kami pun tersita ketika seorang pemain akhirnya melayangkan tendangan cantik menembus pertahanan lawan dan -- GOL! Ruangan serta merta dipenuhi oleh teriakan dan makian dari supporter tim masing-masing.
  
Rusuh!
  
Aku jadi teringat beberapa waktu lalu, saat aku nonton bersama teman kantor untuk mengikuti perebutan gelar Champion di salah satu kafe di daerah Kuningan dulu. Heboh juga, mesti tidak seramai saat ini. Saling mengejek mewarnai setiap menitnya. Tidak cukup dengan obrolan langsung, mereka bahkan melanjutkan acara ledek meledek di media social seperti facebook dan twitter.
   
Di facebook, biasanya yang kalah akan dipaksa untuk memasang foto profil atau status alay yang tak boleh diganti selama beberapa waktu. Lucu.
  
Waktu itu ada teman priaku yang terkena sial, dan terpaksa mengganti foto profilnya menjadi Ivan Gunawan.  Seorang temannya memasang komen,
   
‘Aseekk dah pencinta Ivanka.. alay bin kamseupay dehhhh kanuaa..’ (red: kampungan sekali udik payah deh kamu) yang kemudian ditanggapi ‘Idissss..’, ‘Maho’, dan kalimat memanas-manasi dari teman lainnya yang pasti membuat jengkel orang bersangkutan.
   
Di twitter juga sama ramainya, setidaknya timeline kali ini juga pasti dipenuhi thread tentang bola. Aku menscroll layar hapeku, dan benar saja, banyak twit tentangnya di sana.
   
‘Mamam tuh tiang.. geser aja lapangan bolanya..” satu per satu komen mulai kubaca.
   
‘Pertandingan lebih ketat dari celana kamu’ – hahaa dasar absurd.
  
‘Kalo maen kaya gini mendingan ngalah dari awal’ - komen yang seperti ini sudah biasa. Tipe pesimistis kalo aku boleh bilang. Bukankah pertandingan untuk dinikmati?
   
‘Untung gw tinggal tidur’ Nah, yang ini lebih aneh lagi. Masa tidur sambil tetap komen? Hehh..
  
Masih senyum-senyum menscroll TL, mataku kemudian menemukan 1 twit yang berbeda dari tema malam ini.
  
“With you… in studio X 5th days ago”
By @rama_nyashinta at 02:20 AM.
  
Hmm? Tanpa sadar aku mengangkat alis sebelah kanan.
   
“Kenapa?” tanya Damar yang rupanya dari tadi mengamatiku.
   
Aku mendongak, dan menemukan pandangan beningnya menatap tepat mengunci mataku.
   
Refleks, aku menjawab “Nggak...”, sambil menaruh hape ke dalam tas, dan lanjut melahap daging yang tersisa di piringku.
   
Oke. Aku tahu reaksiku tidak wajar. Tapi meskipun aku terbiasa berbagi banyak hal dengannya. Tentang Rama, adalah satu-satunya yang aku tak mau Damar tahu.
   
***
  
   

Selasa, 15 Mei 2012

Selaksa

Entahlah
dari beragam partikel yg menyentuh kulit ari
hanya satu yg damainya sampai ke sudut hati
tak berbentuk
namun tetap merasuk

Bukan sebatas kata
yang keluar dari mulut berbisa

Atau sebentuk senyum
dengan pahit terkulum

Dia terkunci
di suatu titik mati

Terbentuk dari selaksa yang terberai
dalam sekotak memori

Mungkin saja diamnya
adalah cara dia bersuara

Menanti
tuk capai pemaknaan hakiki
dalam suatu celah tanpa dimensi
hey, bukankah sang waktu adalah ksatria abadi?

Jumat, 04 Mei 2012

Y for Y2

entahlah
dari sekian kilasan makna
yang menari bersama sel kelabu
tak satu pun yang berarah

bahwa semua partikel adalah debu

dan garis tak selamanya berbatas pada horizontal
ataupun melulu vertikal

bahwa diam hanyalah masalah waktu

dan energi tak selamanya berasal dari gravitasi
ataupun sebatas eksistensi

bahwa dua hanyalah soal persepsi

dan manusia bukanlah objek ilmu pasti
ataupun sekedar percobaan evolusi

dari sekian lintasan imaji
tak ada pasti yang kan kutemui
aku mengerti

tangan yang terkepal kosong
suara yang tersekat di kerongkong

tapi hati adalah titik abadi
senyatanya dia dalam kata dan mewujud dalam diri
tergantung sisi mana yang dia resapi

pertanyaannya
yakinkah kita bahwa gelap itu memang ada?
atau dia hanya bentuk ketiadaan cahaya?

*mind maze*

( on Monday, January 30, 2012 at 3:31am)