25
hari sebelumnya.
Dompetku hilang! Lututku
tiba-tiba melemas di hadapan mesin yang seharusnya mencairkan uang tunai ke
tanganku saat ini. Aku mengorek-ngorek isi tasku, mengeluarkan semua yang ada
di dalamnya untuk mencari kotak kecil berwarna hitam itu. kutahu itu percuma.
Aku sangat ingat, telah menaruhnya di posisi biasa.
Daya ingatku cukup kuat
untuk masalah tata letak. Benda yang aku susun, aku bahkan bisa mengetahui ada
yang menyentuhnya hanya dengan melihat letaknya yang berubah. Jadi, kalau benda
itu sudah tidak ada di posisinya semula, maka seseorang pastilah telah
menggesernya. Seseorang atau sesuatu, kali ini tepatnya. Jeng-jeng-jeng…
Perut yang mengerucuk,
seakan ikut berteriak cemas bahwa dia tak akan bisa menikmati makan malam
seperti sewajarnya. Untungnya, temanku cukup tanggap untuk membayari makan
terlebih dahulu.
Lezatnya Pho Bo (sejenis
bakso Vietnam) pun untuk sementara berhasil menghilangkan kepanikan. Hingga
akhirnya, usai makan kami balik ke kantor dan menyadari bahwa jam sudah
menunjukkan pukul 23.30 WIB. Sudah tidak ada TransJakarta lagi, dan pekerjaan
tentu saja masih menanti.
Beginilah nasib kami para
auditor. Untuk memenuhi deadline penugasan, tidak jarang kami harus
menghabiskan lebih dari setengah hari di kantor. Bahkan ada pula yang terpaksa
menginap sampai esoknya, atau bahkan berhari-hari. Jika kau tanya apa saja yang
kami lakukan? Tidak, kami tak hanya menatap kaku layar laptop.
Kami berpikir, kami
menganalisa, kami mencari dasar, kami mengumpulkan bukti, kami membuat
kesimpulan, kami mencipta, kami mengedit, kami berargumentasi, dan kami juga
memastikan agar apa yang kami kerjakan tidak dipertanyakan apalagi diragukan.
Singkat kata, bagi kalian yang menganggap menulis itu hal susah, bayangkan jika
anda harus menulis sesuatu dengan analisa tepat, dan dasar serta bukti yang tak
bisa dipatahkan. Begitulah, betapa menantangnya pekerjaan kami.
Ngomong-ngomong soal
menantang, pulang tengah malam tanpa selembar uang di tangan juga termasuk sesuatu
yang menantang. Menantang untuk dikuliti supir taksi misalnya, jika kita
memintanya mengantar sampai tujuan, lalu berkata “Maaf pak, dompet saya
ketinggalan di kantor.. boleh ngutang dulu?”. Atau menantang diteriaki bos,
ketika kita minta diijinkan menebeng sampai Salemba, sementara rumah beliau
berada di daerah Pondok Indah sana.
Dan aku, sedang tak ingin
menjalani tantangan seperti itu.
Well, sepertinya tak ada
pilihan lain selain bergantung padanya.
Ya, dia.
Seseorang yang selalu bisa
diandalkan untuk saat-saat seperti ini.
***
“Jadi, kali ini kenapa
lagi?” tanyanya ketika kami duduk berhadapan, masing-masing dengan sepotong
paha dan sayap di tangan, siap untuk dilahap.
“Apa!?” aku berteriak,
memintanya mengulang.
Saat ini kami berada di
salah satu tempat makan 24 jam di daerah Matraman. Kondisinya ramai sekali, bukan
hanya karna tempat itu biasa dijadikan tongkrongan para pencinta malam. Tapi
kebetulan, malam ini juga memang ada acara nonton bersama pertandingan bola di
salah satu stasiun TV.
Beberapa bangku dan meja
digabungkan di tengah, tepat di hadapan layar kaca 25 inches itu. Segerombolan
pria dengan berbagai baju dan gaya, berkumpul dan mulai menjagokan jawaranya
masing-masing. Satu-dua wanita juga terlihat menyelip di antaranya, hanya bisa
ikut tertawa, dan sesekali berkomentar.
Cukup riuh, hingga membuat
suara dia di seberang sana menjadi tersamar.
Oh ya, dia yang kumaksud
adalah teman di kantor pertamaku dulu. Namanya Damar. Kami satu angkatan saat
masuk kantor beberapa tahun lalu. Aku tak begitu ingat bagaimana awalnya, namun
yang kutahu selalu menyenangkan untuk berbagi cerita dengannya. Sapaan tidak
penting yang mengawali hari, obrolan ngalor-ngidul yang tak jelas
juntrungannya, sampai hal penting untuk diargumentasi yang kemudian berubah
menjadi sepele karna penuturannya. Lama-kelamaan aku pun menjadi terbiasa
berbagi banyak hal dengannya.
Terlalu terbiasa, sampai
akhirnya dia menjadi sosok pertama yang terlintas ketika kumenemui sesuatu.
Misalnya ya seperti saat ini. Untung di sisiku, naas di sisinya. Hahahaa..
Menyerah karna tahu
suaranya takkan bisa mengalahkan keriuhan yang ada, Damar menggeser kursinya
hingga kami bersebelahan.
“Jadi, kali ini kenapa?” ucapnya
mengulang pertanyaan yang sempat dilontarkan tadi.
“Dompet gw ilang.” Jawabku
sambil tetap melahap paha ayam yang menggoda.
“Ko bisa?” dia terkejut.
“Ya, bisa.. kenapa harus
gak bisa?”
“Euuhhh,, serius..”
protesnya menanggapi jawaban acuhku. “Kartu-kartu udah diblokir?”
“CC udah, ATM belum. Mau
liat dulu di kamar, sapa tau keselip”
“Mending blokir aja dulu, kalo
emang ATMnya ternyata ada kan tinggal minta buka blokirannya nanti. Daripada
kenapa-kenapa itu isi rekening.”
“Gak bakal kenapa-kenapa..
Gak ada uangnya ini. Ahahahaaa..”
Dia meringis, bersamaan
dengan gaduh yang mulai terdengar ketika salah satu tim mulai melakukan
penyerangan. Perhatian kami pun tersita ketika seorang pemain akhirnya
melayangkan tendangan cantik menembus pertahanan lawan dan -- GOL! Ruangan
serta merta dipenuhi oleh teriakan dan makian dari supporter tim masing-masing.
Rusuh!
Aku jadi teringat beberapa
waktu lalu, saat aku nonton bersama teman kantor untuk mengikuti perebutan
gelar Champion di salah satu kafe di daerah Kuningan dulu. Heboh juga, mesti
tidak seramai saat ini. Saling mengejek mewarnai setiap menitnya. Tidak cukup
dengan obrolan langsung, mereka bahkan melanjutkan acara ledek meledek di media
social seperti facebook dan twitter.
Di facebook, biasanya yang
kalah akan dipaksa untuk memasang foto profil atau status alay yang tak boleh
diganti selama beberapa waktu. Lucu.
Waktu itu ada teman priaku
yang terkena sial, dan terpaksa mengganti foto profilnya menjadi Ivan Gunawan. Seorang temannya memasang komen,
‘Aseekk dah pencinta
Ivanka.. alay bin kamseupay dehhhh kanuaa..’ (red: kampungan sekali udik payah
deh kamu) yang kemudian ditanggapi ‘Idissss..’, ‘Maho’, dan kalimat
memanas-manasi dari teman lainnya yang pasti membuat jengkel orang
bersangkutan.
Di twitter juga sama
ramainya, setidaknya timeline kali ini juga pasti dipenuhi thread tentang bola.
Aku menscroll layar hapeku, dan benar saja, banyak twit tentangnya di sana.
‘Mamam tuh tiang.. geser
aja lapangan bolanya..” satu per satu komen mulai kubaca.
‘Pertandingan lebih ketat
dari celana kamu’ – hahaa dasar absurd.
‘Kalo maen kaya gini
mendingan ngalah dari awal’ - komen yang seperti ini sudah biasa. Tipe
pesimistis kalo aku boleh bilang. Bukankah pertandingan untuk dinikmati?
‘Untung gw tinggal tidur’ Nah,
yang ini lebih aneh lagi. Masa tidur sambil tetap komen? Hehh..
Masih senyum-senyum
menscroll TL, mataku kemudian menemukan 1 twit yang berbeda dari tema malam
ini.
“With you… in studio X 5th days ago”By @rama_nyashinta at 02:20 AM.
Hmm? Tanpa sadar aku
mengangkat alis sebelah kanan.
“Kenapa?” tanya Damar yang
rupanya dari tadi mengamatiku.
Aku mendongak, dan
menemukan pandangan beningnya menatap tepat mengunci mataku.
Refleks, aku menjawab “Nggak...”,
sambil menaruh hape ke dalam tas, dan lanjut melahap daging yang tersisa di
piringku.
Oke. Aku tahu reaksiku
tidak wajar. Tapi meskipun aku terbiasa berbagi banyak hal dengannya. Tentang
Rama, adalah satu-satunya yang aku tak mau Damar tahu.
***